Kamis, 26 April 2018

VIETNAM, Dari Indo-China Hingga Masa Kontemporer


BAB 1 : PENDAHULUAN

Latar Belakang
Di Asia Tenggara kita mengenal sebuah kawasan dengan sebutan Indo-China. Kawasan ini terdiri atas 3 Negara yaitu Laos, Kamboja, dan Vietnam. Ketiganya memiliki sejarah yang khas dalam perkembangannya yang turut mempengaruhi daerah sekitarnya. Sebagai sebuah Negara, kawasan Indocina, merupakan jajahan Perancis. Namun setelah merdeka negara tersebut terpecah menjadi tiga Negara yaitu Vietnam, Laos, dan Kamboja. ini merupakan hal yang menarik. Bila dibandingkan dengan Indonesia, Indonesia adalah negara kepulauan yang terpisahkan oleh lautan. Ada sesuatu yang berbeda disini Indocina yang memiliki kebudayaan dan daratan yang sama terpecah menjadi tiga negara, sementara Indonesia yang memiliki kebuayaan yang berbeda disetiap daerahnya, bisa bersatu menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Vietnam merupakan sebuah negara dengan perjalanan sejarah yang panjang, pertarungan dua ideologi di utara dan selatannya negeri tersebut. Mengingatkan kita bahwa negara itu adalah salah atukrban dari perang dingin yang bekembang setaelah perang dunia kedua. Dengan mengkaji Vietnam, kita bisa menarik hikmah yang terkandung. Bagaimana sebuah negara kecil yang juga memanfaatkan kekosongan kekuasaan yang ditinggalkan oleh Jepang yang menyerah kepada sekutu.bagaimana perbedaaan paham ideology Vietnam utara dan selatan, bagaimana mereka dapat mengalahkan Negara Adidaya seperti Amerika Serikat. Perjuangan pergerakan kemerdekaaan Vietnam dari Perancis. 

BAB 2: PEMBAHASAN 

1) Jatuhnya Indo-China ke Perancis
Pada Awalnya Raja Tu Due (1847-1883) yang berkuasa di Vietnam menindas kaum Katholik dan mencoba untuk menutup Indo-Cina dari Perancis dan bangsa asing lainnya. Hal ini dilakukan karena perang candu yang terjadi di Cina (Cina vs Inggris) menunjukkan ketidakmampuan Cina menghadapi bangsa asing yang mengobrakabrik negeri tersebut. Tue Due berusaha agar hal ini tidak terjadi di Indo-Cina. Perancis menanggapi sikap Tue Due ini dengan melakukan serangan ke Cochin-China (1858), dengan alasana untuk melindungi warga negaranya. Walau pasukan Vietnam berhasil dikalahkan namun, kota Hue (ibu kota Vietnam) gagal untuk dikuasaai. Guna mengakhiri perang yang berlangsung selama 4 tahun tersebut maka pada 1862 terjadilah perjanjian Saigon. Hal-hal yang disetujui dalam perjanjian tersebut, yaitu:
(1)   Bagian timur Cochin-China menjadi milik Perancis.
(2)   Pelabuhan Tourame, Balat, Kuang An di buka untuk Perancis.
(3)   Kebebasan beragama katholik.
Isi perjanjian tersebut jelas merugikan Vietnam, dan menguntungkan Perancis untuk melakukan penetrasi kolonial dan imperialisme di kawasan Indo-China. Padan 1870-1871 Perancis kehilangan kekuatannya akibat Revolusi Perancis (dimana pemerintahan monarki diganti dengan Republik). Raja Tu Due tidak menyadari hal ini, sehingga tidak memanfaatkannya kondisi Perancis yang melemah dalam menyelenggarakan imperialismenya di Indo-China. Pada tahun 1872-1873 Francis Garnier seorang Avonturier Perancis menyerbu Tonkin dan menduduki Hanoi. Tindakan Garnier ini dilakukan tanpa sepengetahuan pemerintah Perancis, tapi dibalik itu pemerintah Perancis berharap tindakannya Garnier ini berhasil. Sayangnya, Garnier berhasil dikalahkan oleh pasukan Vietnam dan tewas. Pemerintah Perancis lalu melakukan penjelasana mengenai pendudukan di Hanoi ini. untuk menyelesaikan konflik tersebu, maka ditanda tangani perjanjian damai yaitu:
(1)   Hanoi dikembalikan oleh Perancis ke Vietnam.
(2)   Vietnam mengakui chocin-china sebagai milik Perancis.
(3)   Vietnam berjanji akan menyesuaikan politik luar negeri dengan Perancis.
Terlambat bagi Vietnam menyadari kelemahan Perancis kala itu, Imperialisme Perancis kembali kuat. Melihat kenyataan ini raja Tu Due memalingkan negerinya ke Tiongkok. Usaha ini dilakukan untuk mengimbangi Perancis yang mulai bangkit di Eropa. Celakanya, usaha raja Tu Due dianggap melanggar perjanjian Saigon pada butir ketiga. Akibatnya, Vietnam dan Perancis terlibat perang (ini disebut dengan perang Indo-cina pertama). Perang ini berakhir dengan kekalahan Vietnam. Selanjutnya Vietnam menandatangani perjanjian Huė 1883 yang berisi bahwa Vietnam mengakui berada dibawah naungan Perancis. Sejak saat itu Vetnam dujajah Perancis dan imbasnya adalah kehilangan kemerdekaannya. Pada tahun 1883 raja Tu Due wafat, terjadi perebutan kekuasaan antar putra  mahkota, baru tahun 1887 Vietnam diambil alih oleh Peracis sebagai miliknya. Tahun 1893 Kamboja direbut Perancis, maka sempurnalah Indocina berada dibawah kekuasaan Perancis.

2) Indo-China dibawah Perancis
a)      Politik
Dalam usaha melanggengkan kekuasaan Perancis di Indo-Cina, digunakan sistem politik Asimilasi (bercampurnya kelompok atau individu yg berlainan  kebudayaannya menjadi satu kelompok kebudayaan) dalam hal in kebudayaan perancis diperlakukan lebih utama dari kebudayaan asli Indo-cina. Orang-orang Indocina, harus bersikap, berbahasa, dan hidup ala orang Perancis. Hal ini diharapkan agar bangsa Indocina tergantung terhadap Perancs, dan Perancis menganggap telah memiliki Indocina selama-lamanya. Namun usaha secara politik ini gagal, karena perancis tidak yakin akan keberhasilnya dalam menerapkan politik Asimilasi ini
b)     Ekonomi
Eksplotasi segala kekayaan alam untuk kepentingan Perancis tanpa mengindahkan kepentingan penduduk lokal Indo-cina. Eksplotasi yang dilakukan secara besar-besaran menyebabkan kelemahan ekonomi, ditunjukkan dengan gagalnya produksi beras, dan berakhir dengan keruntuhan ekonomi Indocina.

3) Nasionalisme Indo-China
Pada awalnya pergerakan Nasionalisme di Indo-China selalu gagal. Itu disebabkan kurangnya koordinasi dan konsoldasi antar Negara-negara dan tokoh-tokoh Pemimpin di Indo-China. Barulah pada masa Ho Chi Minh Koordinasi dan konsolidasi untuk menuju persatuan nasional dapat dilaksanakan, hal-hal yang mampu mendorong munculnya kembali nasionalisme di Indo-cina adalah:
1.      Penindasan Perancis di Indo-China
2.      Timbulnya kaum pelajar yang memahami Demokrasi.
3.      Perang Jepang-Rusia yang membangkitkan nasionalisme seluruh Asia.
4.      Revolusi nasional di Tiongkok.
5.    Para tentara Indo-China yang dikirim Perancis dalam PD II kembali dan membawa paham Liberalis.

4) Gerakan Nasionalisme
Vietnam Resoration League : Didirikan Cuong De (1907), gerakan ini timbul karena pengaruh kemenangan Jepang terhadap Rusia pada tahun 1905, dan mengambil Jepang sebagai teladan.
Partai Nasionalis Indo-China : Partai ini mencontoh Guo Ming Tang (Tiongkok). Partai ini menimbulkan pemberontakan antara Vietnam dengan Perancis, pemberontakan ini dapat ditumpas pada tahun 1931.
Partai Komunis Indo-China : Partai ini tidak menampakan dirinya sebagai partai komunis tapi selalu menyelundup dalam gerakan-gerakan nasionalsme. Partai ini didirikan pada 1929 di Hongkong oleh Nguyen Al Quoc atau yang dikenal dengan nama Ho Chi Minh.
Partai Demokrat Indo-China : Partai ini didirikan pada tahun 1944 oleh mahasiswa yang ingin merdeka dan pemerintahan yang demokratis. Mereka menyetujui Ho Chi Minh sebagai pemimpin mereka.
Partai Sosialis Indo-China : Didirikan pada 1946, tujuannya untuk mendapat kemerdekaan dan pemerintahan yang sosialis. Gerakan di Indo-China yang berkobar lebih didorong oleh orang-orang komunis. Ho Chi Minh dengan semboyannya “my party is my country, and my program is my independency.”

5) Dampak Perang Dunia II bagi Perjuangan Bangsa Vietnam
Menyerahnya Perancis pada Jerman (1940) menyebabkan kondisi pemerintahan Perancis di Indo-China melemah. Ketika Jepang datang, maka dengan mudah merebut Indo-China dari Perancis. Namun, pada saat itu Perancis masih memegang kekuasaan atas Indo-china sebagai konsekuensinya Perancis harus menyiapkan kebutuhan perang Jepang. Namun kondisi ini tak bertahan lama karena Jepang mengambil alih kekuasaan perancis di indo-china pada 9 maret 1945. lalu mendirikan kerajaan Vietnam pada 11 maret 1945 dengan Bao Dai sebagai rajanya. Lalu Norodom Sihanouk sebagai raja Kamboja pada 13 maret 1945. Selanjutnya pada 20 April 1945 Sisavong Vong menjadi raja Laos. Namun usaha Jepang ini tdak berhasil menarik hati masyarakat indochina yang ingin merdeka dari Perancis. Ho Chi Minh pada tahun 1941 lebih berhasil mempersatukan gerakan-gerakan nasionalisme Indo-China didalam Liga Kemerdekaan Vietnam, dan mendapat bantuan dari Tiongkok, USA, dan Perancis . Ho Chi Min menyerbu Tonkin dan menggerilya disana dan sampai akhirnya Jepang menyerah pada sekutu (14 Agustus 1945).Pada tanggal 2 September 1945, Ho Chi Minh menduduki Hanoi dan memproklamasikan kemerdekaan Indo-China sebagai Republik Demokratik Vietnam.

6) Perjuangan Kemerdekaan Vietnam      
Dalam konfrensi Postdam (2 Agustus 1945) ditetapkan bahwa Indo-China sebelah utara garis lintang 16° akan diduduki oleh Tiongkok, dan sebeah Selatan garis lintang 16° oleh tentara Inggris, untuk melucuti Jepang dan mengembalikan keamanan dan ketertiban. Tentara pendudukan ini datang terlambat. Waktu antara Jepang menyerah dan tibanya tentara pendudukan digunakan sebaik-baiknya oleh Ho Chi Minh dengan melakukan tindakan:
i)        Memproklamirkan kemerdekaan.
ii)      Merebut pemerintahan dari Jepang.
Inggris tidak suka melihat Indo-China mendapat kemerdekaan karena ini akan memperkuat gerakan kemerdekaan Asia. Inggris ingin mengembalikan imperealisme Perancis di Indo-China. Maka dengan diam-diam Inggris membawa tentara Perancis dalam usaha menlucut Jepang. Pada 23 Agustus 1945 tentara Perancis dapat merebut Saigon. Seluruh wilayah Inggris diberikan kepada Perancis. Adanya persetujuan Chungking pada 28 Pebruari 1946 membuat Tiongkok keluar dari Vietnam.

7) Perang Kemerdekaan Vietnam
>)      Fase Perundingan
Mundurnya pasukan Cina dari wilayah Vetnam membuat konfontasi berlangsung secara langsung oleh Vietnam (Ho Chi Minh) dengan Perancis. Menyadari perang tak bisa digunakan, maka Vietnam dan perancis memilih untuk bedamai dengan menanda tangani perjajian 8 maret. Adapun isi dari perjanjian tersebut diantaranya:
1.      Republik Demokratik Vietnam (Vietminh) diakui sebagai negara bebas (free state) dalam federasi negara Indo-China yang terdiri dari Vietminh, Vietnam, Kamboja, Laos.
2.      Status cochin-china akan ditentukan dalam konfrensi tersendiri apakah Cochin akan masuk Vietminh atau Vietnam.
Cochin-China merupakan wilayah pengahasil beras di Indo-China, sehingga wilayah ini sangat urgen untuk dikuasai. Secara bahan pangan, siapa yang menguasai Cochin-China maka dia menggenggam seuruh Indo-China. Dalam perundingan yang dilakukan di Dalat dan Fontainebleau Cochin-China berubah status menjadi negara tersendiri (1 Juni 1946), pada konfrensi yang dilakukan di Dalat. Perwakilan Vietminh tidak diundang, hal ini menunjukkan pelanggaran terhadap persetujuan 6 maret. Alhasil fase ini berlanjut denga fase pertempuran.

>)     Fase Pertempuran
Fase ini ditandai dengan pengeboman Haipong (daerah Vietminh) pada 23 nopember 1946. Perperangan berlangsung diseluruh kawasan Indochina, namun perang berakhir dengan kegagalan. Maka selanjutnya memasuki dengan melalui fase negara-negara boneka.

>)      Fase Negara-Negara Boneka
Tujuan dari pebentukan negara-negara boneka ini adalah untuk melemahkan Ho Chi Minh denga memasukkan kedalam boneka-boneka yang dipropoganda Perancis, sehingga menimbul perpecahan diantara mereka. Memperkecil wilayh kekuasaan Ho Chi Minh, dan sebagai bentuk propoganda Perancis dalam usaha melepaskan politk imperialisme dan pelaksananaan Atlantk Charter. Diantara tujuan lainnya, politik devide et empera untuk memecah belah Indo-China. Negara-negara boneka buatan perancis diantaranya: Kamboja (7 Januar 1946), Laos (27 Agustus 1946), dan Vietnam (Bao Dai). Diantara ketiga negara tadi, Vietnam merupakan negara hasil buatan Perancis yang berhasil dalam usaha melakukn propoganda. Bao Dai adalah raja Vietnam yang pada tahun 1932 lalu tahun 1945 diangkat kembali menjad  raja. Namun dikalanga kaum terpelajar, Bao Dai tidak diakui. Vietnam yang dipimpin Bao Dai diakui sebagai negara oleh U.S.A dan Inggris (7 Pebruari 1950). Sementara dilain pihak Ho Chi Minhdengan Demokratik Vietnam juga diakui oleh R.R.C dan Rusia (31 Januari 1950)

>)     Fase Kemenangan Komunis di R.R.C
Perang Kemerdekaan Indo-China berubah sifat dari kemerekaan menjadi perang China-Rusia versus Amerika. Ini tak lain karena Mao Tse Dong yang membantu Ho Chi Minh memiliki ideologi yang sama dimana Komunis harus tercapai lebih dulu setelah melalui Nasionalisme. Gerakan mendukung nasionalisme ini ditunjukan dengan sikap anti imperialisme dan kolonialisme. Hal ini mendukung dan memperkuat posisi Vietnam yang mendapatkan dukungan secara oril dan materil.

8) Perang Besar di Dien Bien Phu dan Kekalaahan Telak Perancis atas Vietminh
Bantuan-bantuan RRC yg di pimpin oleh Mao Ze Dong dengan paham komunis terhadap Komunis Vietnam pimpinan Ho Chi Minh berupa alat-alat militer, pelatihan gerilyawan bagi pasukan Vietnam Utara,dan lain sebagainya semakin memantapkan posisi Vietnam utara yg berpaham komunis untuk meruntuhkan kekuasaan Perancis yg tersisa di Vietnam Selatan. Memasuki tahun 1950-an, Uni Soviet yang dari awal tidak mengindahkkan Vietnam dan perjuangannya, baru pada tahun 1950 mengakui eksistensi Vietnam. Sedangkan di pihak lain, Perancis melalui panglima barunya Jenderal Henri Navarre berhasil meyakinkan AS untuk rencana peningkatan militernya, termasuk pembangunan benteng di Dien Bien Phu. Benteng tersebut dimaksudkan untuk menangkal infiltrasi pasukan Viet Minh ke Laos yang dikuasai Perancis. Pasukan payung literjunkan di dataran tersebut dan membangun -bentengan yang kuat, termasuk dua lapangan terbang kecil serta gugusan pusat pertahanan. Hal ini mungkin dimaksudkan untuk mempertinggi moril dan semangat tempur sekitar 16.000 prajurit payung Perancis. Jika Jenderal Navarre berharap pasukan Viet Minh akan terperangkap dan dihancurkan di lembah Dien Bien Phu, maka sebaliknya Jenderal Giap melihat perbentengan Perancis itu harus dibinasakan dan direbut untuk memperoleh momentum yang menentukan dalam perang Indochina. Karena itu diam-diam Giap mengepung Dien Bien Phu, termasuk mengerahkan kekuatan artilerinya. Bulan Maret 1954 peluru meriam mulai menghujani Dien Bien Phu tanpa terduga oleh Perancis. Mereka pun mulai khawatir tatkala melihat bahwa bantuan pasukan maupun logistik ternyata dapat mencapai Dien Bien Phu hanya dengan lewat udara. Apalagi ketika Jenderal Giap mulai merapatkan kepungan untuk selanjutnya mengerahkan pasukannya langsung menyerbu. Pertempuran sengit dan brutal, sering terjadi satu lawan satu, berkecamuk di Dien Bien Phu. Pasukan Perancis yang mati-matian bertahan, beberapa kali berhasil memukul mundur serbuan ini. Namun bak air bah dari bendungan jebol, akhirnya pasukan Viet Minh tak terbendung dan satu persatu pusat pertahanan Perancis pun mengibarkan bendera putih setelah pertempuran dengan korban besar di kedua pihak. Sesudah benteng Elaine jatuh pada 7 Mei, maka tentara Perancis menyerah. Sekitar 11.000 prajuritnya ditawan oleh Vietnam. Kemenangan besar ini diharapkan VietMinh inipun membuat Prancis kewalahan dan akhirnya membawa Masalah Vietnam ke dalam Konverensi Jeneva di tahun 1954.

9) Konferensi Jeneva 1954
Pada tanggal 25 April 1954 dibukalah Konferensi Jenewa yang di hadiri oleh Perancis, Republik Demokrasi Vietnam, Republik Vietnam, Kamboja, Laos, RRC, Inggris, Rusia, Amerika Serikat, Korea Utara dan Korea Selatan. Rencana pembahasan adalah Korea dan Vietnam namun karena kondisi di Vietnam sudah tidak terkontrol lagi maka pembahasan di fokuskan ke Vietnam. Serangan pasukan Viet Minh betul-betul luar biasa sehingga membuat tentara Perancis kocar kacir. Pertempuran selama 55 hari dan 55 malam ini akhirnya kekuatan Perancis yang masih tersisa dihancurkan pada tanggal 7 Mei 1954. Pertempuran berhenti dengan kemenangan Viet Minh. Dengan kemenangan ini lah dibuka Konferensi Jeneva dengan hasil kesepakatan:
1.      Mengakui kemerdekaan penuh Kamboja, Laos dan Vietnam. 
2.      Pembagian Vietnam menjadi dua (utara dan selatan) dengan batas garis lintang 17 LU. 
3.      Perancis dan Republik Vietnam Selatan menarik pasukan yang ada di Utara.
4.      Republik Demokrasi Vietnam harus pula menarik pasukan dari lintang 17 LU. 
5.      Republik Demokrasi Vietnam yang menguasi daerah Utara diakui secara de facto.
6.   Dan untuk penyatuan Vietnam akan diadakan pemilu pada bulan Juli 1956 dibawah pengawasan Komisi Pengawas Internasional.
Disini untuk Amerika Serikat dan Vietnam Selatan tidak mau menandatangani Perjanjian di karenakan keduanya tidak menyetujui point-point dalam Perjanjian Jenewa. Dan tentunya memiliki pandangan ada tujuan tersendiri untuk Vietnam yang akan datang.

10) Jatuhnya Vietnam Selatan oleh Vietnam Utara dan Terjadinya Perang Vietnam
Dengan Diresmikanya isi dari Konvensi Jeneva, memperlihatkan banyak pihak-pihak yang tidak puas dengan hasil konvensi tesebut. Hal ini dibuktikan dengam terbentuknya Front Nasional Pembebasan Vietnam Selatan (FNPVS) oleh Vietcong yang berbasis komunis Vietnam utara.Pada awalnya, Front Nasional Pembebasan Vietnam Selatan atau FNPVS ini hanya melakukan perang-perang gerilya dalam skala kecil untuk menjatuhkan Pemerintahan Vietnam Selatan yang dipimpin oleh Ngo Dinh Diem yang berpaham Kapitalis dan didukung oleh Amerika Serikat. Namun selanjutnya cara-cara FNPVS ini berubah menjadi haluan berbasis politik propaganda adu domba terhadap pemerintahan Vietnam Selatan. Politik adu domba inipun dirasa berhasil dan menimbulkan perpecahan politik intern di dalam kubu pemerintahan Vietnam Selatan sendiri sehingga menimbulkan Kudeta Militer dan Presiden Vietnam Selatan, Ngo Dinh Diem pun terbunuh. Dengan terbunuhnya Ngo Dinh Diem, Amerika Serikat pun mulai bergerak dalam menyelamatkan Vietnam Selatan agar tidak jatuh ke tangan Vietnam Utara dan menjadi berpaham Komunis. Dengan turun tangannya AS beserta sekutunya inilah terjadi Perang Vietnam  Perang Vietnam, juga disebut Perang Indochina Kedua, adalah sebuah perang yang terjadi antara 1957 dan 1975 di Vietnam. Perang ini merupakan bagian dari Perang Dingin antara dua kubu ideologi besar, yakni Komunis dan Liberal.
Dua kubu yang saling berperang adalah Republik Vietnam (Vietnam Selatan) dan Republik Demokratik Vietnam (Vietnam Utara) dengan Amerika Serikat, Korea Selatan, Thailand, Australia, Selandia Baru dan Filipina bersekutu dengan Vietnam Selatan dengan jumlah pasukan ± 1.200.000, sedangkan USSR dan Tiongkok mendukung Vietnam Utara yang merupakan negara komunis dengan jumlah pasukan ±520.000. Jumlah korban yang meninggal diperkirakan adalah 280.000 di pihak Selatan dan 1.000.000 di pihak Utara. Perang ini mengakibatkan eksodus besar-besaran warga Vietnam ke negara lain, terutamanya Amerika Serikat, Australia dan negara-negara Barat lainnya, sehingga di negara-negara tersebut bisa ditemukan komunitas Vietnam yang cukup besar. Setalah berakhirnya perang ini, kedua Vietnam tersebut pun bersatu pada tahun 1976.

11) Perang Vietnam-Kamboja
Pada tahun-tahun terakhir menjelang kejatuhan saigon tahun 1975, negara-negara anggota ASEAN mencemaskan kemungkinan penarikan mundur pasukan Amerika Serikat dari Asia Tenggara. Ketegangan terus memuncak mengingat ASEAN adalah negara-negara Non-Komunis sedangkan negara-negara Indochina adalah negara komunis. Kemenangan Vietnam pada Perang Vietnam sudah tentu mengkhawatirkan ASEAN ditengah rencana Amerika Serikat untuk mengurangi kehadiran pasukannya yang selama ini secara tak langsung melindungi ASEAN dari invasi komunis ke kawasan tersebut. Sebagai antisipasi terhadap kemungkinan paling buruk jika Amerika Serikat  meninggalkan Vietnam maka ASEAN senantiasa menekankan posisinya sebagai negara yang netral dan tidak konfrontasional dan berharap negara-negara Indochina (Kamboja, Laos, dan Vietnam) akan mengikuti jalan ASEAN. Akan tetapi harapan ini tidak segera dapat diwujudkan karena dengan diproklamasikannya Republik Sosialis Vietnam (RSV) tahun 1976, sebagai konsekuensi dari kekalahan Amerika Serikat atas Vietnam, Vietnam pun tampil lebih percaya diri karena masih mendapat dukungan Soviet. Bahkan pemerintahan komunis Vietnam mempropagandakan isu-isu anti ASEAN yang mereka tuduh sebagai kepanjangan tangan Neokolonialis Amerika Serikat. Kecemasan ASEAN memang akhirnya terwujud karena pada Desember 1978 Vietnam benar-benar menginvasi Kamboja, menggulingkan Rezim Pol Pot (yang haus darah), dan menanamkan pemerintahan Heng Samrin Pro-Vietnam. Denagn dukungan pasukan kuat Vietnam bertahan menguasai Kamboja, yang diubah menjadi RRK (Republik Rakyat Kamboja). Sementara tokoh RRK seperti Heng Samrin, Chea Sim, dan Hun Sen sebenarnya adalah mantan komandan Khmer Merah di kawasan Timur Kamboja. Mereka menentang keganasan Pol Pot dan melarikan diri ke Vietnam. Disanalah para pemberontak ini dilatih dan dipersiapkan Vietnam untuk kemudian merebut dan menduduki Kamboja dengan dukungan pasukan Vietnam. ASEAN memandang invasi Vietnam ke Kamboja sebagai tindakan pelanggaran prinsip-prinsip dasar hubungan antar negara. Yakni, Non-Interference dan Non-Use Force. Invasi Vietnam ke Kamboja menciptakan persoalan serius di sekitar perbatasan wilayah Thailand-Kamboja. Sisa-sisa pasukan Khmer Merah yang masih bertahan plus puluhan ribu pengungsi dari Kamboja memenuhi wilayah tersebut. Konflik bersenjata di kawasan tersebut tidak terhindarkan dan dengan sendirinya mendorong tumbuhnya instabilitas di Thailand. 
Pada Januari 1979, ASEAN lewat pertemuan para menteri luar negerinya, menentang perilaku Vietnam dengan mengingatkan esensi Deklarasi Bangkok 1967 sebagai protes atas tindakan campur tangan yang dilakukan Vietnam terhadap Kamboja. ASEAN secara resmi menolak mendukung pemerintahan Phnom Penh Pro-Vietnam, mendukung isolasi Internasional atas Vietnam, mengusahakan penarikan tanpa syarat pasukan Vietnam dari Kamboja, mencegah penetrasi Vietnam ke Thailand, mendukung Kamboja yang netral, damai, dan demokratis, serta mendukung kepemimpinan ASEAN dalam mencari solusi damai dalam konflik Kamboja yang bebas dari campur tangan luar. Hanoi sebaliknya, menentang sikap ASEAN dan bersikukuh untuk mempertahankan posisinya di Kamboja. Hanoi berpendapat bahwa kehadiran pasukannya ke Kamboja untuk menyelamatkan rakyat Khmer dari Rezim pembasmi manusia dibawah kepemimpinan Pol Pot. Vietnam tidak mungkin merubah keputusan tersebut dan menolak setiap upaya perundingan Internasional untuk meninggalkan Kamboja. Hanoi hanya akan meninggalkan Kamboja jika Hanoi dan Phnom Penh memandang sudah tiba saatnya untuk melakukannya. Sikap Hanoi tumbuh dari keyakinan yang timbul sejak pasukan Amerika Serikat harus meninggalkan Vietnam Selatan. Keberhasilan pasukan Vietnam mengalahkan pasukan Amerika Serikat menjadikan Vietnam tetap bersikukuh untuk kembali mengulang keberhasilan tersebut. Bagi Hanoi, persoalan Kamboja merupakan akibat dari ekspansionisme dan hegemoni China. Sekalipun demikian, baik Phnom Penh maupun Hanoi menegaskan bahwa apa yang berlangsung di Kamboja tidak lebih dari perang saudara antar rakyat Khmer dengan demikian bersifat domestik dan tidak memerlukan bantuan eksternal.

BAB 3 PENUTUP

Kesimpulan
Perjuangan bangsa Vietnam sangatlah keras dan hebat demi terbebasnya mereka dari belenggu Penjajahan Prancis. Tokoh-tokoh nasionalis-komunis seperti Ho Chi Minh dengan gagah berani dan pantang menyerah terus memimpin rakyat Vietnam agar dapat Merdeka dari penjajahan bahkan sampai mereka mampu untuk mengalahkan Negara Adidaya seperti Ameika Serikat. Dengan mempelajari Sejarah bangsa-bangsa di Asia Tenggara, Khususnya Sejarah perjuangan Bangsa Vietnam, kita dapat mengambil hikmah dan suri tauladan dari para pemimpin-pemimpin Vietnam yang pantang Menyerah, Berani, Cerdas, Gigih, dan lain-lain.

Kritik dan Saran
Mungkin dalam pembuatan makalah yang kami buat banyak kekurangan dan kesalahan, maka dari itu penulis bersedia menerima saran maupun kritik demi perbaikan selanjutnya.

Sabtu, 21 Oktober 2017

Akulturasi Budaya Islam dan Pra-Islam

Akulturasi Budaya Lokal, Hindu-Budha, dan Islam di Indonesia

Bersamaan dengan masuk dan berkembangnya agama Islam, berkembang pula kebudayaan Islam di Indonesia. Unsur kebudayaan Islam itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan Indonesia tanpa menghilangkan kepribadian Indonesia, sehingga lahirlah kebudayaan baru yang merupakan akulturasi kebudayaan Indonesia dan Islam. Akulturasi kebudayaan Indonesia dan Islam itu juga mencakup unsur kebudayaan Hindu-Budha. Perpaduan kebudayaan Indonesia dan Islam, antara lain dapat dilihat sebagai berikut:

-   Seni Bangunan
1. Makam sebagai hasil kebudayaan zaman Islam mempunyai ciri-ciri perpaduan antara unsur budaya Islam dan unsur budaya sebelumnya. Pada makam Islam sering kita jumpai bangunan kijing atau jirat (bangunan makam yang terbuat dari tembok batu bata) yang kadang-kadang disertai bangunan rumah (cungkup) di atasnya. Dalam ajaran Islam tidak ada aturan tentang adanya kijing atau cungkup. Adanya bangunan tersebut merupakan ciri bangunan candi dalam ajaran Hindu-Budha. Tidak berbeda dengan candi, makam Islam, terutama makam para raja, biasanya dibuat dengan megah dan lengkap dengan keluarga dan para pengiringnya. Setiap keluarga dipisahkan oleh tembok dengan gapura (pintu gerbang) sebagai penghubungnya. Gapura itu belanggam seni zaman pra-Islam, misalnya ada yang berbentuk kori agung (beratap dan berpintu) dan ada yang berbentuk candi.
Tata Upacara Pemakaman. Pada tata cara upacara pemakaman terlihat jelas dalam bentuk upacara dan selamatan sesudah acara pemakaman. Tradisi memasukkan jenazah dalam peti merupakan unsur tradisi zaman purba (kebudayaan megalithikum yang mengenal kubur batu) yang hidup terus menerus sampai sekarang. Demikian pula, tradisi penaburan bunga di makam dan upacara selamatan tiga hari, tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari, dan seribu hari untuk memperingati orang yang telah meninggal merupakan unsur Islam dan juga unsur agama Hindu-Budha. Dan hingga saat ini tetap dilaksanakan oleh sebagian masyarakat Islam.
Penempatan Makam. Dalam penempatan makampun terjadi akulturasi antara kebudayaan lokal, Hindu-Budha dan Islam. Misalnya, makam terletak di tempat yang lebih tinggi dan dekat dengan masjid. Contohnya, makam raja-raja Mataram yang terletak di bukit Imogiri dan makam para wali yang berdekatan dengan masjid. Dalam agama Hindu-Budha makam dalam candi.

2. Bangunan Masjid merupakan salah satu wujud budaya Islam yang berfungsi sebagai tempat ibadah. Dalam sejarah Islam, masjid memiliki perkembangan yang beragam sesuai dengan daerah tempat berkembangnya. Di Indonesia, masjid mempunyai bentuk khusus yang merupakan perpaduan budaya Islam dengan budaya setempat. Perpaduan budaya pada bangunan masjid terlihat pada:
Bentuk Bangunan. Bentuk masjid di Indonesia, terutama di pulau Jawa, bentuknya seperti pendopo (balai atau ruang besar tempat rapat) dengan komposisi ruang yang berbentuk persegi dan beratap tumpang. Cirri khusus bangunan masjid di Timur Tengah biasanya bagian atapnya berbentuk kubah, tetapi di Jawa diganti dengan atap tumpang dengan jumlah susunan bertingkat dua, tiga, dan lima.

3. Menara. Menara merupakan bangunan kelengkapan masjid yang dibangun menjulang tinggi dan berfungsi sebagai tempat menyerukan azan, yaitu tanda datangnya waktu shalat. Di Jawa terdapat bentuk menara yang dibuat seperti candi dengan susunan bata merah dan beratap tumpang, seperti menara masjid Kudus (Jawa Tengah).

Letak Bangunan. Dalam ajaran Islam, letak bangunan masjid tidak diatur secara khusus. Namun, di Indonesia, penempatan masjid khususnya masjid agung, diatur sedemikian rupa sesuai dengan komposisi mocopat (yaitu masjid ditempatkan di sebelah barat alun-alun), dan dekat dengan istana (keraton) yang merupakan symbol tempat bersatunya rakyat dengan raja di bawah pimpinan imam. Selain itu, adanya kentongan atau bedug yang dibunyikan di masjid Indonesia sebagai pertanda masuknya waktu shalat. Hal itu juga menunjukkan adanya unsur Indonesia asli. Bedug atau kentongan tidak ditemukan pada masjid di Timur Tengah.

-   Seni Rupa
Wujud akulturasi kebudayaan Indonesia dan Islam pada seni rupa dapat dilihat pada ukiran bangunan makam. Hiasan pada jirat (batu kubur) yang berupa susunan bingkai meniru bingkai candi. Pada dinding rumah, makam dan gapura terdapat corak dan hiasan yang mirip dengan corak dan hiasan yang terdapat pada Pura Ulu Watu dan Pura Sakenan Duwur di Tuban (Jawa Timur). Salah satu cabang seni rupa yang berkembang pada awal penyebaran agama Islam di Indonesia adalah seni kaligrafi. Kaligrafi tersebut biasanya digunakan untuk menghias bangunan makam atau masjid.

-   Aksara
Akulturasi kebudayaan Indonesia dan Islam dalam hal aksara diwujudkan dengan berkembangnya tulisan Arab Melayu di Indonesia, yaitu tulisan Arab yang dipakai untuk menulis dalam bahasa Melayu. Tulisan Arab Melayu tidak menggunakan tanda a, i, u seperti lazimnya tulisan Arab. Tulisan Arab Melayu disebut dengan istilah Arab gundul.

-   Seni Sastra
Kesusastraan pada zaman Islam banyak berkembang di daerah sekitar selat Malaka (daerah Melayu) dan Jawa. Pengaruh yang kuat dalam karya sastra pada zaman Islam berasal dari Persia. Misalnya, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Bayan Budiman, dn Cerita 1001 Malam. Di samping itu, pengaruh budaya Hindu-Budha juga terlihat dalam karya sastra Indonesia. Misalnya, Hikayat Pandawa Lima, Hikayat Sri Rama, Hikayat Kuda Semirang, dan Syair Panji Semirang.
Cara penulisan karya sastra pada zaman Islam dilakukan dalam bentuk gancaran dan tembang. Di Jawa, tembang merupakan suatu bentuk yang lazim, tetapi di daerah Melayu, tembang dan gancaran ada semua. Cerita yang ditulis dalam bentuk gancaran disebut hikayat, sedangkan cerita yang ditulis dalam bentuk tembang disebut syair. Di daerah Melayu, karya sastra itu ditulis dengan menggunakan huruf Arab, sedangkan di Jawa, naskah itu ditulis dengan menggunakan huruf Jawa dan Arab (terutama yang membahas soal keagamaan).

-   Sistem Pemerintahan
Pengaruh agama Islam di Indonesia juga terjadi dalam bidang pemerintahan sehingga terjadi akulturasi antara kebudayaan Islam dan kebudyaan pra-Islam. Sebelum masuknya agama Islam, di Indonesia telah berkembang sistem pemerintahan dalam bentuk kerajaan. Raja mempunyai kekuasaan besar dan bersifat turun-temurun. Masuknya pengaruh Islam mengakibatkan perubahan struktur pemerintahan dalam penyebutan raja. Raja tidak lagi dipanggil maharaja, tetapi diganti dengan julukan sultan atau sunan (susuhunan), panembahan, dan maulana. Pada umumnya nama raja pun disesuaikan dengan nama Islam (Arab). Akulturasi dalam penyebutan nama raja di Jawa lebih kelihatan karena raja tetap memakai nama Jawa dibelakang gelar sultan, sunan, atau panembahan, seperti Sultan Trenggono. Di samping itu, juga muncul tradisi baru di Jawa, yaitu pemakaian gelar raja secara turun-temurun, sedangkan untuk membedakan raja yang satu dengan yang lainnya ditentukan dengan menambah angka urutan di belakang gelar, seperti Hamengkubuwono I, II, III, dan seterusnya. Begitu pula, dengan sistem pengangkatan raja pada masa berdirinya kerajaan Islam di Nusantara tetap tidak mengabaikan cara-cara pengangkatan raja pada masa sebelumnya. Di Kerajaan Aceh, tata cara pengangkatan raja diatur dalam permufakatan hukum adat.

Catatan tambahan
Di Kerajaan Aceh, tata cara pengangkatan raja diatur dalam permufakatan hukum adat. Tata cara pengangkatan raja di Kerajaan Aceh adalah raja berdiri di atas tabal (tabuh/beduk yang dipalu pada ketika meresmikan penobatan raja, mengumumkan penobatan raja), kemudian disertai ulama sambil membawa al-Qur’an berdiri di sebelah kanan dan perdana menteri memegang pedang di sebelah kiri. Di Jawa, pengangkatan raja dilakukan oleh para wali. Raden Fatah menjadi Sultan Demak dengan permufakatan para wali dan dilakukan di masjid Demak. Pengangkatan Sultan Hadiwijaya dari Kesultanan Pajang dan Penembahan Senopati dari Mataram juga tidak terlepas dari peran Wali Sanga. Perbedaan tata cara pengangkatan raja di setiap daerah menunjukkan bahwa tradisi lokal tetap digunakan.

Sistem Kalender
Wujud akulturasi budaya Indonesia dan Islam dalam sistem kalender dapat dilihat dengan berkembagnnya sistem kalender Jawa atau Tarikh Jawa. Sistem kalender tersebut diciptakan oleh Sultan Agung dari Mataram pada tahun 1043 H atau 1643 M. Sebelum masuknya budaya Islam, masyarakat Jawa telah menggunakan kalender Saka yang dimulai tahun 78 M. Dalam kalender Jawa, nama bulan adalah Sura, Safar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Ruwah, Pasa, Syawal, Zulkaidah, dan Besar. Nama harinya adalah Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Ahad yang dilengkapi hari pasaran, seperti Legi, Pahing, Pon, Wege, dan Kliwon.




Sumber :
Hamka. 1997. Sejarah Umat Islam. Pustaka Nasional
Mayeli, Salahuddin. Akulturasi antara Tradisi Lokal, Hindu-Buddha, dan Islam di Indonesia

Sabtu, 11 Februari 2017

Roman Down


Keruntuhan Kekaisaran Romawi Barat dan Timur

Kekaisaran Romawi Barat, Civis Romanus Sum (artinya: Saya Orang Romawi) adalah kalimat yang dipakai oleh Orang Romawi dan menunjukkan kebanggaan orang-orang Romawi pada imperiumnya di masa puncak kejayaannya. Kegemilangan peradaban Romawi menjadikan Eropa sebagai cahaya dunia masa lampau. Kekaisaran Imperium Roma telah menguasai daratan Eropa barat dan Timur Dekat selama hampir 1000 tahun. Ini tidak lepas dari kuatnya Pax Romana dan kontrol daerah yang kuat, tetapi memasuki tahun 180 M, Pax Romana yang telah memperkuat Imperium Roma, mulai mengalami kemunduran dengan ditandai meninggalnya Kaisar Marcus Aurelius. Penggantinya yang tidak lain adalah anaknya yang bernama Commodus (180-193 M) tidak mampu mengendalikan pemerintahan dengan baik. Hal ini dikarenakan Commodus tidak mempunyai bakat apapun selain pacuan kereta, perang, dan perkelahian gladiator. Kecintaannya pada olahraga membuat prestise dan kewibawaan pemerintahan menurun drastis, disamping itu karena dia tidak begitu mempedulikan keselamatan pribadi membuat Commodus mati karena terbunuh.

Seperti juga Commodus, raja-raja berkuasa selanjutnya juga merupakan kaisar-kaisar yang lemah. Sehingga pada perkembangan selanjutnya muncul suatu zaman yang disebut dengan zaman anarki militer (235-284 M). Zaman ini merupakan zaman yang penuh dengan konflik intern antara faksi-faksi militer sehingga menyebabkan stabilitas dan efisien pemerintahan hilang sehingga tidak heran bila dalam kurun waktu setengah abad terjadi hampir dua lusin pergantian kaisar dan yang mencengangkan adalah hanya satu kaisar yang meninggal secara wajar. Sedangkan lainnya mati dalam peperangan melawan sekutu yang memberontak atau dibunuh oleh tentaranya sendiri. Anarki militer seperti yang dijelaskan di atas akan menjadikan keruntuhan total yang singkat jika tidak ada seorang kaisar kuat yang mampu menghentikannya. Kaisar kuat tersebut adalah Diacletianus (284-305 M) seorang veteran tentara. Ia mulai melakukan berbagai perubahan penting yang salah satu diantaranya adalah mensentralisasikan kekuasaan ke pusat yang sistemnya mirip prinsip oriental tradisional. Sistem pemerintah model tersebut juga dipraktikan oleh pengganti-penggantinya seperti Galerius (305-311 M) dan Constantine (306-337 M). Tetapi pada masa itu terjadi berbagai kebingungan karena kacaunya berbagai pertimbangan politik.

Diacletianus dan penerusnya tidak menghormati sistem republik yang dipraktekan oleh Augustus dan kaisar-kaisar sebelumnya. Mereka menghapuskan segala hak otonomi daerah dan memberikan kekuasaan absolut kepada gubernur-gubernur terhadap urusan-urusan lokal. Diocletanius juga membuat suatu badan yang bernama keuskupan yang menjadi lembaga perantara antara provinsi dengan pusat. Ia juga membagi kekaisaran menjadi 2 yaitu barat dan timur yang masing-masing mencakup beberapa keuskupan. Diocletianus memindahkan ibukota kekaisaran belahan barat dari Roma ke Milan yang terletak di Italia Utara. Dia memilih Milan karena kota tersebut jauh dari intrik-intrik politik yang saling menjatuhkan seperti di Roma. Wilayah ini juga dekat perbatasan dimana ia berusaha untuk menumpas kaum barbar yang ada disana. Kota Roma peranannya menjadi berkurang karena banyak penduduknya yang pindah dan banyak juga gedung yang rusak karena tidak terawat. Sedangkan Constantine menetapkan ibukota kekaisaran Romawi Timur di Byzantium yang kemudian ia rubah menjadi Konstantinopel.

Pembagian ini memiliki arti yang cukup penting karena pembagian ini didasarkan pada persamaan bahasa. Di Romawi Barat penduduknya menggunakan bahasa latin sedangkan di Timur menggunakan bahasa Yunani. Sehingga tidak heran bila pembagian ini mulai menggerogoti persatuan kekaisaran Romawi. Hal inilah yang nantinya menjadi jurang pemisah antara peradaban Eropa Barat dan Selatan yang lebih condong ke Romawi, dan peradaban Greco Oriental yang tersebar di Rusia dan daerah-daerah Balkan. Untuk memperkuat pasukannya Diacletionus tidak mengizinkan para pemalas dan pembunuh masuk dalam legiun ketentaraan sehingga ia lebih suka menggunakan tentara bayaran yang terdiri dari orang asing yaitu orang-orang Jerman, jadi ia menghapuskan kebiasaan merekrut warga negara untuk menjadi tentara. Untuk menunjukkan kewibawaan raja, Diacletionus menggunakan konsep Persia yaitu mendudukkan raja sebagai seorang dewa, jubahnya yang dilapiasi emas mununjukkan wibawanya yang begitu tinggi dihadapan para dewa di bumi dan langit. Para pejabat juga memperoleh gelar-gelar yang agung seperti pejabat keuangan kini bergelar Pangeran yang mendapat anugerah suci dan dewan negara menjadi Dewan suci.

Diocletionus juga mencoba menyelamatkan perekonomian negara tetapi hal tersebut sia-sia. Nilai mata uang menurun drastis karena kaisar-kaisar pendahulunya menurunkan nilai pembuatan uang logam yakni mengurangi kuantitas logam mulia pada koin-koin itu. Dalam waktu singkat ia berusaha menstabilkan nilai logam dan kemudian kembali kepada praktek pengurangan nilai seperti sebelumnya, tetapi hasilnya sangat lain dari harapan karena nilai-nilai mata uang romawi merosot tajam dan harga barang-barang naik secara bersamaan usaha Diocletionus untuk mengendalikan inflasi dengan melakukan kontrol-kontrolnya atas harga yang menimbulkan munculnya pasar gelap dan kerusuhan-kerusuhan di kalangan para penjual dan pembeli.

Diocletianus berusaha untuk mengatasi keadaan krisis finansial dengan menetapkan pajak yang tinggi kepada penduduk. Pajak-pajak tersebut ditarik dewan kota praja dan anggota curia. Apabila pajak tersebut tidak memenuhi ketentuan maka dewan kota praja dan anggota curia harus menambahkannya. Sehingga memicu bencana besar yang disebut Katastrofic, dimana banyak anggota curia dan dewan kota praja yang mengundurkan diri karena tidak mampu memenuhi pajak yang harus disetorkan kepada pemerintah. Dalam mengatasi masalah ini para kaisar penerus Diocletionus memaksa para curia dan dewan kota praja agar tetap menduduki jabatannya dan menetapkan bahwa jabatan tersebut turun temurun sehingga pada waktu itu jabatan curia yang sebelumnya dianggap sebagai kedudukan terhormat kini menjadi beban yang amat berat.

Diocletianus dan para penerusnya melakukan hal serupa pada kelompok sosial lain yang akibatnya juga buruk misalnya kaum petani yang dipaksa untuk menanam gandum sebagai bahan pokok pembuatan roti yang nantinya akan disuplai ke pemerintah untuk dibagikan secara cuma-cuma di Roma seperti kasus sebelumnya, pemerintah juga menerapkan para staf kerajaan mereka ditetapkan secara turun temurun. Diocletianus dan para penerusnya cenderung hendak menegakkan suatu sistem kasta. seseorang boleh melakukan pekerjaan yang sama sepanjang hidupnya, anaknya harus meneruskan pekerjaan yang sama, hingga generasi demi generasi selanjutnya. Disamping hal-hal diatas, ketertarikan tentara pada uang juga memicu runtuhnya Imperium Roma. Ini dikarenakan para tentara telah mengabaikan tugasnya untuk menjaga kaisar dan lebih mementingkan kebutuhan uang beserta materil.

Keadaan ini menjadi pemicu terjadinya konflik-konflik internal yang mulai menggerogoti kestabilan pemerintahan dan dalam keadaan serba kacau inilah orang-orang Barbar (dalam pandangan masyarakat Romawi dan Yunani), yang sudah sejak lama menghuni batas-batas Romawi di utara Eropa yang terdiri dari suku bangsa Goth, Vandal, Hunt, Ostrogath, Visigoth, Slavia, dan Gaul mengetahui keadaan Roma yang sudah lemah dan akhirnya mereka menyerbu masuk ke jantung kekaisaran Romawi. Kaisar Romawi terakhir, Romulus Augustus, diturunkan oleh pemimpin suku-suku barbar tersebut yang bernama Odoacer pada 476 M. Akhirnya setelah ditaklukkan, segala lambang kejayaan Romawi di Eropa, hancur. Pusat pemerintahan yang indah dengan kolom-kolom yang megah, arena koloseum raksasa yang bisa menampung puluhan ribu penonton, dan perpustakaan-perpustakaan besar yang berisi pengetahuan-pengetahuan hebat sepanjang sejarah, hanya tinggal kenangan. Buku-buku karya filusuf dan pemikir paling jenius pun tidak luput dari pemusnahan-dibakar menjadi abu.

Kekaisaran Romawi Timur adalah istilah yang digunakan oleh sejarawan modern untuk menyebut bagian Kekaisaran Romawi yang didominasi penutur bahasa Yunani dan berpusat di Konstantinopel pada masa Antikuitas Akhir dan Abad Pertengahan dari negaranya yang lebih awal pada masa Klasik. Negara ini disebut juga Kekaisaran Bizantium terutama dalam konteks Abad Pertengahan, sementara Romawi Timur biasanya digunakan dalam konteks terkait masa ketika Romawi masih dikelola dengan pusat politik timur dan barat yang terpisah. Penduduk dan negara-negara tetangganya menyebut kekaisaran ini sebagai Kekaisaran Romawi (bahasa Yunani: Βασιλεία Ῥωμαίων, Basileia Rhōmaiōn; bahasa Latin: Imperium Romanum) atau Romania (Ῥωμανία). Setelah Kekaisaran Romawi Barat mengalami perpecahan dan keruntuhan pada abad ke-5, bagian timurnya masih terus berkembang, bertahan hingga kira-kira seribu tahun lagi sampai akhirnya ditaklukan oleh Turki Utsmaniyah pada 1453. Selama sebagian besar masa keberadaannya, negara ini merupakan kekuatan ekonomi, budaya, dan militer yang paling berpengaruh di Eropa.

Pada tahun 285 M, Kaisar Diocletianus (berkuasa. 284–305) membagi pemerintahan Kekaisaran Romawi menjadi paruh timur dan barat. Pembagian ini didasarkan pada persamaan bahasa. Di Romawi Barat penduduknya menggunakan bahasa latin sedangkan di Timur menggunakan bahasa Yunani. Hal inilah yang nantinya menjadi jurang pemisah antara peradaban Eropa Barat dan Selatan yang lebih condong ke Romawi, dan peradaban Greco Oriental yang tersebar di Rusia dan daerah-daerah Balkan. Antara tahun 324 dan 330, Kaisar Constantinus I (berkuasa 306–337) mengganti nama ibukota Romawi timur, Byzantium menjadi Konstantinopel ("Kota Konstantinus") atau disebut juga Nova Roma ("Roma Baru"). Di bawah kaisar Theodosius II (berkuasa 379-395), Kristen  menjadi agama negara resmi kekaisaran sedangkan agama lainnya seperti politeisme Romawi dilarang.

Periode akhir peralihan dimulai pada akhir pemerintahan Kaisar Heraclius (berkuasa 610–641) ketika dia sepenuhnya mengubah kekaisaran dengan mereformasi pasukan dan pemerintahan dengan memperkenalkan sistem theme. Peralihan ini juga dipermudah oleh fakta bahwa pada masa Heraclius dan para penerus terdekatnya, banyak wilayah non-Yunani di Timur Tengah dan Afrika Utara yang telah direbut oleh Kekhalifahan Arab yang sedang berkembang, dan Kekaisaran Bizantium hanya meliputi wilayah yang sebagian besar dihuni oleh penutur bahasa Yunani. Maka dari itu pada masa kini Byzantium dibedakan dari peradaban Romawi kuno berdasarkan kebudayaannya yang lebih mengarah pada kebudayaan Yunani alih-alih Latin, dan ditandai oleh Kristen Ortodoks sebagai agama negara setelah tahun 380 M. Negeri ini pernah menjadi negara terkuat di Eropa, meskipun terus mengalami kemunduran, terutama pada masa Peperangan Romawi-Persia dan Romawi Timur-Arab. Kekaisaran ini direstorasi pada masa Dinasti Makedonia, bangkit sebagai kekuatan besar di Mediterania Timur pada akhir abad ke-10, dan mampu menyaingi Kekhalifahan Fatimiyah. Setelah tahun 1071, sebagian besar Asia Kecil direbut oleh Turki Seljuk.

Restorasi Komnenos berhasil memperkuat kembali dominasi Romawi timur pada abad ke-12, tetapi setelah kematian Andronikos I Komnenos dan berakhirnya Dinasti Komnenos pada akhir abad ke-12, kekaisaran kembali mengalami kemunduran. Romawi Timur semakin terguncang pada masa Perang Salib Keempat tahun 1204, ketika kekaisaran ini dibubarkan secara paksa dan dipisah menjadi kerajaan-kerajaan Yunani dan Latin Byzantium yang saling berseteru. Kekaisaran berhasil didirikan kembali di bawah pimpinan kaisar-kaisar Palaiologos  setelah pasukan Yunani Byzantium dari Nikaia berhasil merebut kembali Konstantinopel pada 1261. Akan tetapi perang saudara pada abad ke-14, ditambah dengan direbutnya perdagangan oleh Republik Italia, terus melemahkan kekuatan kekaisaran. Sisa wilayahnya dicaplok oleh Kesultanan Utsmaniyah dalam Peperangan Romawi Timur - Utsmaniyah. Akhirnya, Konstantinopel berhasil direbut oleh Utsmaniyah pada tanggal 29 Mei 1453, menandai berakhirnya Kekaisaran Romawi Timur, meskipun beberapa monarki Yunani tetap menguasai sejumlah wilayah bekas milik Kekaisaran Bizantium selama beberapa tahun, hingga takluknya Mystras pada 1460, Trebizond pada 1461, dan Monemvasia pada 1473.

Penyebaran Agama Kristen di Romawi

Pada awal perkembanganya, Agama Nasrani tidak seperti agama-agama penyembahan dewa-dewa yang diwariskan dari generasi ke generasi sebagai ciri-ciri budaya suatu bangsa. Agama Kristen secara aktif mempertobatkan mereka yang belum percaya kepada Tuhan. Agama Kristen bermula dari Timur Tengah dan menyebar hingga ke Yunani dan Mesir. Para utusan Injil Kristen terutama murid Yesus, Petrus (?-67 Masehi), perintis penyebaran agama Kristen, bersama-sama dgn Saulus dari Tarsus (5-67 Masehi), kini dikenal sebagai Paulus, memberitakan agama yang baru itu ke seluruh wilayah Kekaisaran dan bahkan sampai ke Roma. Pada awalnya, kedatangan agama baru ini bisa ditoleransi oleh orang Romawi namun pada perkembangannya malah banyak mendapat tekanan dari pemerintah karena agama ini dianggap menyalahi kepercayaan setempat yang punya banyak dewa atau disebut polytheisme sedangkan agama nasrani lebih menjurus ke monotheisme.

Hingga suatu ketika, keadaan ini berubah ketika Kaisar Constantinus (280-337 Masehi), yang memeluk agama Kristen, berkuasa. Di bawah kepemimpinannya, agama yang awalnya ditentang ini, mulai diterima dan bahkan dikembangkan. Bahkan, ia sempat menjadi penengah dalam sebuah perselisihan serius mengenai doktrin antara golongan barat dan timur dalam Gereja. Ia mengundang para uskup yang mewakili kedua golongan itu untuk menghadiri sebuah Konsili Nicea tahun 325 Masehi. Di sana perbedaan di antara mereka diselesaikan. Pengakuan Konsili Nicea, yang naskahnya dibuat pada konferensi tersebut, menetapkan keyakinan-keyakinan Kristen yang mendasar dan dapat disepakati  oleh kedua golongan.

Pada perkembangan selanjutnya ajaran Agama Nasrani mampu berkembang cukup pesat pada golongan masyarakat bawah yang pada perkembangan selanjutnya para penguasa juga mulai memeluk agama ini. Ini tidak lain juga merupakan imbas dari kekacauan yang terjadi di Kekaisaran Roma yang memicu tumbuhnya keinginan untuk memilih agama yang lebih baik dari agama yang dianut mereka sebelumnya sebagai pegangan hidup. Masyarakat Romawi sudah tidak percaya lagi pada dewa yang mereka sembah karena mereka sudah punya anggapan bahwa dewa-dewa tersebut tidak mampu menyelesaikan persoalan mereka. namun pada saat itulah Agama Nasrani berkembang pesat tetapi sudah kehilangan bentuk aslinya. Kini justru Romawi lah yang mempengaruhi agama tersebut. Pengaruh tersebut adalah adanya suatu organisasi yang memicu munculnya susunan organisasi gereja, dengan posisi tertinggi yaitu Paus. Gereja menjelma menjadi suatu negara tersendiri, dengan istana Paus di Vatikan yang menjadi pusat agama Nasrani. Segala kekuasaan dalam gereja berasal dari pusat yang menjadikan Paus menjadi pemimpin tertinggi gereja yang tidak hanya mengurus masalah kerohanian saja tetapi juga sudah lebih ke politik.

Suatu jemaat Nasrani mengangkat seorang Presbyter. Kemudian untuk kota diangkat seorang Patriarch sehingga pada tahun 400 M patriarch-patriarch tersebut mengakui kekuasaan Vatikan dan tunduk terhadap Paus, sementara Imam-imam gereja dalam suatu muktamar gereja menetapkan ajaran agama Nasrani hingga kepada hal-hal yang kecil dan khusus. Pada perkembangan selanjutnya dibentuk suatu hierarki gereja yang kokoh dengan Roma sebagai pusatnya. Dimana di pucuk pimpinan ada Paus dibawahnya dan ada Kardinal, kemudian biskop pertama (arts bisschop), diikuti oleh biskop, pastur dan apellon masing-masing bertanggung jawab pada orang yang ada di atasnya. Dalam organisasi gereja tersebut terlihat benar tradisi pemerintahan Romawi sebagai pengaruhnya. Perkembangan agama Kristen yang begitu pesat ternyata menimbulkan banyak masalah baru, diantaranya yaitu banyak orang yang masuk Kristen hanya untuk menanamkan pengaruh di komunitas-komunitas Kristen tersebut, sehingga banyak orang yang masuk Kristen hanya ikut-ikutan saja tidak berdasarkan hati nurani. Melihat gejala sosial tersebut para pemeluk agama Kristen yang puritan sangat prihatin sehingga mereka mengundurkan diri dari dunia ramai dan menyepi ditempat-tempat seperti hutan, gunung, dan padang pasir sebagai pertapa. Hidup para pertapa itu serba sulit, namun mereka punya pengikut yang banyak, bahkan beberapa diantara mereka melakukan askekitisme yang cukup ekstrim. Di antara para pertapa yang terkenal itu adalah Santo Anthonius dari Mesir, dan Santo Simean Stylitus.

Namun cara hidup di atas dipandang oleh orang kebanyakan sebagai hal yang terlalu sulit untuk dilakukan sehingga pada perkembangan selanjutnya muncul gaya pertapaan baru yang diperkenalkan oleh Santo Pachomius. Cara baru ini adalah tetap bertapa dan menyendiri tetapi masih diharuskan untuk bekerja, berdoa, dan membanca Injil bersama-sama dengan sesama pertapa. Ini disebabkan karena dorongan alamiah seorang manusia untuk berkumpul dan bersosialisasi dengan manusia lain. Tidak heran bila banyak pemeluk agama Kristen yang menerima ajaran ini dan beribu-ribu orang di Mesir hulu mengikuti tata cara Pachomius ini. Tetapi pada perkembangan selanjutnya muncul lagi revolusi sistem pertapaan tapi sistem ini lebih mirip atau lebih baik disebut sistem kebiaraan. Pencetus cara baru ini adalah Santo Dasil yang menyebutkan bahwa seorang pertapa seharusnya orang yang hidup dilingkungan keagamaan, hidup bersama dalam suatu lingkungan peribadatan dilakukan juga bimbingan terhadap pembacaan Injil. Dengan cara ini muncul biara-biara yang fungsinya sebagai tempat peribadatan umat Nasrani. Umat Nasrani sendiri memiliki seorang rasul yang bernama Yohannes yang meninggal sekitar tahun 101 M, dan dengan kematiannya ini menandai bahwa telah berakhir zaman apostolik (zaman rasul-rasul) kemudian muncul bapa-bapa apolistik yang dianggap menerima perintah khusus dari para rasul. 

        Diantara para bapa apolistik itu yang sangat terkenal adalah St Clement, St Ignatius, dan St Polycarpus. Setelah zaman para bapa apostolik, munculah para bapa gereja. Biasanya mereka adalah orang berwatak mulia dan berdisiplin tinggi. Karya-karya mereka lazim disebut patristik yang sangat berpengaruh pada Eropa abad pertengahan dan modern. Beberapa bapa gereja tersebut adalah Uskup Eusebius, St Ambrosius, St Jeremius, dan St Agustinus. Karya Eusebius yang paling terkenal adalah sejarah gereja yang menjadi acuan bagi karya-karya sejarah perkembangannya gereja oleh generasi selanjutnya. St Ambrosius yang dikenal sebagai Uskup Milan memperkenalkan hymne liturgi ke gereja. St Jeremies menciptakan karya yang sangat penting bagi gereja. Karya tersebut adalah terjemahan kitab perjanjian lama dan baru ke bahasa Latin. St Agustinus adalah penulis dan pemikir terbesar di kalangan gereja Kristen di Eropa. Karya tersebut diantarannya adalah Confessions (pengakuan), De Civitas dei, atau The City of God (Kota Tuhan). Dengan perkembangan itulah agama Kristen berkembang dengan pesat didataran Eropa hingga sekarang.

Sumber:
The History of The Decline and Fall of The Roman Empires, karangan Edward Gibbon.
A Short History of Civilization, karangan Henry Lucas.
www.historyguide.org